#Inspirasi Mengejar Nilai Halalan Thayyiban

 

Makhluk yang diciptakan Allah itu berbagai macam warnanya, bentuknya, jenisnya bahkan dengan jumlah yang sangat banyak. Mulai dari kalangan manusia, jin, tumbuhan hingga golongan hewan sekalipun. Semuanya sudah Allah tetapkan sebelum dunia ini diciptakan.
Bahkan perihal rezeki setiap yang bernyawa memiliki takarannya masing-masing. Namun, apakah untuk mendapatkannya hanya dengan berdiam diri saja? Tentu tidak. Sebab, hal tersebut harus diraih dengan doa dan ikhtiar. Keduanya harus seimbang, karena doa tanpa usaha itu bohong dan usaha tanpa doa itu sombong.
Bahkan Rasulullah SAW bersabda:
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Artinya: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. [HR. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd]

Memang rezeki setiap makhluk sudah ditentukan, tapi kita dianjurkan untuk mencarinya, itupun berusaha dengan cara yang baik lagi halal untuk mendapatkan hasil yang baik juga halal. Sebab, Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memakan makanan yang halal dan baik. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 168 berikut:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ.
Artinya: “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

Percuma baik tapi tidak halal, begitu pun sebaliknya. Jika yang diproduksi dalam tubuh kita adalah yang baik lagi halal, maka darah yang mengalir dan segala sesuatu yang menjadi daging akan mendapatkan berkah dan kebaikan dari apa yang kita makan. Karena, apa-apa yang kita konsumsi Insya Allah akan menjaga diri kita dari keburukan, kerusakan, dan kesakitan dalam tubuh, jika itu baik lagi halal, tapi kalau tidak baik dan tidak halal, maka bisa menyebabkan kerusakan dalam tubuh sebab telah tercampur dengan hal-hal yang tidak baik. Bahkan bisa jadi tidak mendapatkan keberkahan dan rida dari Allah SWT.

Oleh karena itu, tidak perlu kita risaukan masalah rezeki di dunia ini, karena sudah banyak tersebar di seluruh pelosok bumi. Yang harus kita khawatirkan ialah, apakah kita bisa bersyukur jika telah mendapatkannya ataukah bisa bersabar jika belum meraihnya, atau jangan-jangan justru malah kufur terhadap nikmat-Nya? Na’udzubillahhimindzalik.
Ketahuilah, bahwa tidak ada yang tahu dari mana saja datangnya rezeki tersebut, bahkan di waktu yang tidak disangka-sangka.

Ibnul Qayyim berkata, “Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah (dengan hikmah-Nya) berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti (dengan rahmat-Nya) membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.”

Teruslah berusaha dalam mencari rezeki dan jangan sekali-kali berputus asa dari Rahmat Allah. Karena, sungguh Allah tidak menyukai hal tersebut, sebagaimana firman-Nya berikut,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az Zumar {39} : 53).

Kontributor: @almawars

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!